Selasa, 09 Januari 2018

Persahabatan perempuan dan laki-laki




                  Ini topik ga ada hubungannya dengan research aku sama sekali walaupun secara ga langsung aku bahas bagaimana peran wanita yang bekerja di era globalisasi ini mempengaruhi perubahan diet global (apaan sih noor, bukan tesis woyy). J
                  Kita mulai dari pertanyaan serius alias klasik apa bener ada persahabatan laki-laki dan perempuan yang murni bersahabat? Banyak tulisan dan pendapat dari berbagai macam perspektif tentang positif dan negative kalau kita bersahabat dengan laki-laki terlalu dalam. Pendapat paling kuat bagi saya sebagai seorang muslim adalah perspektif islam tentang batas pergaulan laki-laki dan wanita. Secara spesifik, pendapat para ustad tidak membenarkan dan membolehkan adanya persahabatan terlalu intens karna mengkhawatirkan adanya fitnah dan goodaaan syaitan. Di sisi lain, peran media social, lagu-lagu dan film-film remaja menjual kata persahabatan dengan cinta hingga menjadi barang konsumsi public yang sangat komersil. Lihat saja ftv dan film di Indonesia mereka selalu mengibaratkan jika ada dua orang (beda jenis kelamin) bersahbaat maka ujungnya mereka saling jatuh cinta. Cerita dibumbui oleh imajinasi yang sebenarnya merusak otak manusia ini laku sekali dijual.
         Namun saya selalu bertanya apa mungkin benarnya hal itu dilarang?
                  Bagi saya, persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu diperbolehkan selama dalam batas kewajaran. Ada beberapa pendapat saya membenarkan ini. Pernah dengar kata shahabiyyah? Kata ini pertama kali saya dengar sejak saya kecil melalui pelajran sejarah islam pas masih SD. Waktu itu ibu guru mewajibkan saya menghafal minimal 10 sahabat wanita rasul beserta apa saja kelebihannya. Ini adalah momen pertama kali saya makin ngefans sama wanita (ketauan deh sisi feminisnya).
Sebut saja Hindun binti Utbah bin Rabiah, sahabat wanita dari suku Quraisy yang terkenal dengan kefasihan kelantangan, ide-ide yang gemilang dan tegas ini, cukup professional dalam membacakan syair. Dia masuk Islam pada waktu penaklukan Kota Mekah dan berkesempatan pula mengikuti Perang Yarmuk serta aktif membangunkan semangat kaum muslimin dalam melawan tentara Romawi. Lubabah Kubra (Lubabah binti Harits Al-Hilali) (wafat 30 H) Istri Abbas bin Abdul Muthalib ini, termasuk wanita terhormat yang melahirkan banyak tokoh. Beliau masuk Islam di Mekah setelah Khadijah, dengan demikian dia adalah wanita kedua masuk Islam. Dan masih banyak tokoh lainnya yang gak kalah kece.
                  Sisi lain kelebihan persahabatan lelaki dan perempuan adalah kelebihan untuk bisa saling belajar dan memahami. Lelaki yang diciptakan lebih logis dan perempuan lebih emosional dalam perjalanannya dapat memberi hikmah yang membuat diri kita punya perspektif baru yang berbeda. Contohnya missal si sahabat perempuan gagal ujian midterm, biasanya layaknya wanita dy akan menangis dan menyesali semuanya sambal lanjut menceritakan hal yang sama kepada teman-temannya. Nah kalau dy cerita ke sahabat perempuan maka akan cenderung didramatisasi “iya ih sedih banget, gue tau itu sedih pasti down deh”. Bandingkan dengan sahabat laki-laki “yaelah, itu kan baru midterm, mending sekarang lo belajar lebih giat buat final exam deh”. Have you seen the different point of views?
                  Menurut aku apa yang salah jika sebenarnya persahabatan adalah hal yang justru mendatangkan juga manfaat? Ternyata ada penelitian di University of Winconsin, Amerika Serikat. Studi ini dilakukan terhadap 88 pasang sahabat yang berbeda jenis kelamin, yang sedang menjalani masa perkuliahan. Hasil penelitian ini mendapati, lebih banyak lelaki yang merasakan ketertarikan seksual terhadap sahabat perempuannya ketimbang perempuan terhadap sahabat lelakinya. Ketertarikan seksual ini yang menjadi rambu kuning mengapa hal ini dilarang oleh ustad-ustad. Selain lebih banyaknya temen-temenku bilang sang perempuan akan cenderung lebih mudah kebawa perasaan disbanding lelaki.
                  Bersahabatlah dengan iman dan logika. Ini jadi salah satu teori yang terlalu indah dituliskan namun sulit dipraktekan. Nyatanya anak muda jaman 90an misalnya yang sejak kecil disuguhi oleh kisah naksir-naksiran sherina dan shaddam dalam film petualangan sherina yang membuat stereotype sahabat jadi cinta kita berkembang dari kecil. Persahabatan dengan iman dan logika mengedepankan agama, bahwa islam mengajarkan untuk saling berbaik kasih terhadap sesama, saling tolong menolong dan membantu apapun ras, warna kulit dan jenis kelaminnya. Lalu dimana peran logika? Logika membatu mengeja keadaan yang ada agar tidak mudah terbawa oleh perasaaan. Hal yang mungkin menjadi poin tambahan bahwa nilai persahabatan ini harus didasari oleh kesadaran yang bertanggung jawab jadi apapun penyimpangan yang nanti mungkin didapat akan tersolusikan. Batasi diri, persahabatan kita dengan iman dan logika. Buka pikiran, buka hati dan belajar untuk mengambil hikmah sebanyak-banyaknya ketimbang menutup diri dari kemungkinan yang belum terjadi.


Lincoln, 12:38 am




Jumat, 12 April 2013

Filosofi Kopi

          "Seindah apapun huruf terukir , dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tdk ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak, dan saling menyayangi bila ada ruang" 
-dewi Lestari-

Senin, 18 Februari 2013

Belajar

Belajar itu meningkatkan iman, semakin ia tau banyak ilmu yang belum diketahui semakin yakin akan keberadaan Alloh Yang Maha Tahu. Tidak pernah ada yang salah dengan mimpi, yang salah hanya mereka yang terus bermimpi namun tak ada upaya untuk mewujudkannya.
ALLOH.... :")

Minggu, 10 Februari 2013

#1 Tausiah

"Berbuatlah untuk duniamu seakan engkau akn hidup selamanya & berbuatlah untuk akhiratmu seakan engkau akan mati besok pagi". (Ibnu umar)


"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At-thalaq:4)

"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa." (QS.Al-Baqarah:197)

Sebaik-baik masjid (tempat bersujud) untuk wanita ialah dalam rumahnya sendiri. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab)

Thanks Unpad


Bismillah…
                Semua akan terjadi pada waktu yang tepat. Kata-kata yang selalu aku dengar belakangan ini. Masa dimana semua teman berusaha untuk meraih mimpinya masing-masing, cita-citanya masing-masing. Ruang wilayah manusia itu memang hanya ikhtiar dan doa, selebihnya tawakal. Satu hal yang aku sadari bahwa episode “UNPAD” hanya sepenggal cerita yang akan kuceritakan nanti kepada anak-anakku kelak.
                6 Februari 2013. Wisuda yang cukup membuatku meneteskan air mata saat berada di dalam. Kalau kata eri (kembaran sanguinisku) bilang “bun, bisa nangis juga”. Dalam hati, yang membuat menangis bukan karna telat setengah tahun dr seharusnya, hahaha…tapi karna aku merasa banyak berhutang sama Unpad. Waktu di Granus, masuk semua kenanangan-kenangan di Unpad, mulai dari masa awal kuliah yang sempat ga mau daftar ulang karna gak masuk pilihan pertama, menjadi Ketua BPM, ngasih sambutan penerimaan mahasiswa baru, lomba-lomba bawa nama Unpad sampai rapat-rapat di sekre yang aku pimpin. Alloh…Unpad membuatku berani bermimpi, bahwa mimpi memang hak semua orang.


                Good bye is another say hello. Aku tidak pernah tahu kapan akan kembali lagi kesini, tapi yang jelas InsyaAlloh pasti akan kembali. Momentum terakhir kali menyanyikan lagu hymne Unpad dan almamater memang mengharu biru, karna apa ?ini terakhir loh ada disana…..hehhhe…


                Orang tua yang terharu. Karna aku anak pertama jadi wajar kalau orangtua rada lebay ikut wisudaan ini, mw cerita dakwah dikeluarga yaa…aku azzam dalam hati bahwa wisuda bukan ajang untuk memamerkan harta kekayaan orangtua, bukan ajang untuk bermewah atau bercantik-cantik ria. Wisuda itu sacral, penuh doa, penuh cinta. Karna sesuai sidang akhir aktifitasku sangat padat dengan mengajar dan les , aku tidak sempat untuk menjahit baju secara khusus, tapi sempat bilang ke ibu kalau aku gak mau pakai kebaya karna akan membentuk badan, ibu yang lebay member budget uang untuk beli baju wisuda hampir 1juta. Jelas aku tidak suka, bagiku itu terlalu lebay. Aku selalu menolak secara halus saat ibu menawarkan baju dengan harga di atas 500rb. Alasannya gak cocok, membentuk badan bu, terlalu mewah,dsb…sembari berdoa dalam hati…”Alloh, jauhkanlah hamba dari sifat riya”. Alhamdulillah aku berhasil membeli baju yang relative murah tapi tetap syar’I karna tidak membentuk tubuh. Model bajunya terispirasi dari walimahan temanku yang bertemakan “princess” hhaha,,, (rekomendasi tempat buat baju syar’I ada di Mal Tanah Abang atau di Thamrin city atau butik shafira juga oke ).


                Selanjutnya make up. Hhaha…Bayangin aja dari SD – SMA saya gak pernah ikut iwsudaan sekolah karna apa alasannya?alasan pertama adalah karna aku gak mau di make up dan yang kedua karna phobia keramaian. Alhamdulillah aku berhasil gak di make up buat wisuda ini karna aku selalu menghindah tiap kali tante mau kasih lipstick atau bedak,dll… *cantik itu karna ilmu dan akhlaq bukan karna make up ya ;)

                
                 *inget banget dulu terakhr kali ketemu sm danboo ini wktu riweuh ngurus AKU ,dan skrg...:))

             Wisuda itu penuh cinta. Terimakasih buat adik binaan, teman-teman BPM Faperta ( that’s why I love you so much) , keluarga teddy, dan seluruh orang yang hadir dalam wisudaanku. Saking banyak hadiah , bunga, boneka, ibu sampai bilang “kamu siapa sih kak, kok banyak yang baik dan sayang sm kamu”. Cuma bisa tersenyum dan dalam hati mengucap “Alhamdulillah” J  Seakan tak mau keluar dari pintu gerbang Unpad, padahal mobil udah nunggu. Selasai wisuda langsung kuatin azzam dalam hati “Good bye Unpad, I promise to make you proud of me. Thanks for everything” ^_^

                *pengen cepet-cepet s2 biar bisa wisuda lagiii ;)

Jumat, 18 Januari 2013

SKRIPSI

Alhmdulillah ya Alloh, terimakasih atas segalanya. Sudah lama sekali tidak menulis d blog sehingga bingung mulai dari mana karna terlalu banyak yang ingin di tulis. Satu persatu akan saya posting tulisan saya secepatnya. Buat para fans ,sabar ya :D
                Hidup yang sebenarnya baru dimulai. 9 januari 2013 saya berhasil mencoret salah satu mimpi dalam hidup saya ditahun ini.  Menjadi sarjana sebelum berulang tahun yang ke-23. Alhmdulillah terwujud, dalam kesibukan yang super maksimum banget di BPM , syuro, dan segala amanah yang tak terlihat lainnya saya berhasil menjadi sarjana. Mimpi saya ketika diawal mengambil amanah di BPM adalah saya tidak ingin diwisuda lewat dari bulan februari. Karna banyak yang bertanya bagaimana saya bisa menjalankan semuanya dengan seimbang tentang sebuah cerita cinta yang banyak dipandang unik oleh sebagian mahasiswa tingkat akhir “skripsi”. Saya mau berbagi bagaimana saya menghadapi dan menjalani mimpi saya ini.
                Setiap orang bebas berekspresi dan menyatakan perasaannya , beban hidup atau apapun itu lewat tulisan. Kadang saya fikir agak lebay saat membaca beberapa postingan yang sebegitu susahnya kayaknya ngerjain skripsi. Sebelum memulai saya sempat ngeframe “kayaknya skripsi susah ya, kok teteh ini,,,akang itu blum pada lulus2 ya” Tetapi dalam hati juga mikir, “writing is your passion”.
1.       Arrange your schedule. Awal mula banget beramanah ya aku tulis dengan jelas perbulan, peta hidup, perhari bahkan untuk aktifitasku. Baca postinganku tentang aku beli buku agenda unyu warna pink. It really helped me to arrange my activities. Mau kapan ngajuin judul, sidang up, sidang kolo, sampai akhirnya jadi sarjana. TULIS! Karna apa?manusia cenderung lupa kalau ga ditulis.
2.       Be Straight to The Point. Kalau disemester akhir kita Cuma ngerjain skripsi , I mean ga punya amanah lain mungkin tantangannya ga terlalu sebesar yang megang amanah di BEM, BPM atau apapun itu. Kalau seseorang sudah berani beramanah yang lebih dari yang lain artinya dy sudah siap untuk berkomitmen terhadap waktu, biaya atau apapun yang akan dihadapi. Apa yang sudah ditulis di poin satu harus direalisasikan disini. HARUS! YOU HAVE TO COMMIT. Gak ada alesan “aduuh…pusing ngurus rapat ini itu. Amanah ini berat loh , saya sulit konsentrasi mikir skripsi juga. NO!  You never know your capacities till you try.
3.       Pray More. Banyak berdoa. Doa gak boleh dibatasin ituk diri sendiri aja ya, doain teman-teman yang satu amanah biar bisa dimudahkan skripsinya. Doain dosen pembimbing dan keluarganya biar sehat, semua orang yang terlibat dalam skripsi kita harus didioain. Aku ingat banget dlu hampir tiap mlm baca doa yang “allohuma yatsir wala tuasir” dan doa robitoh buat dosen pembimbing, dosen wali , responden yang aku butuhin, orang tua semuanya aku doain. Biar aku dilancarin tiap bimbingan, dan yang paling penting biar ALLOH RIDHO sama mimpi kita. Hey im nothing without you , God!
4.       Stay confident. Percaya gak kalau salah satu hambatan yang paling besar itu dari lingkungan?dalam mengerjakan skripsi kamu bakalan ketemu sama temen-temen yang ga semua skripsinya gampang, atau lancar. Contohnya saja sebut x , teman satu dosen pembingbingku x udah sepuluh kali ngajuin judul ke dosen pembimbng tapi selalu ditolak. Belum lagi teman-teman yang ekpresif ngegalau lewat social media tentang skripsi mereka. Give negative effects to us. Caranya mudah , tetap kalem….terus ngerjain skripsi. Kalau udah komitmen waktu jam 8mlm ngerjain skripsi ya dikerjain. PD ngomong sama dosen tentang gagasan kamu dskripsi kamu. Bawa “ruh” yang besar lewat kepercayaan dirimu.  Inget banget dulu sering ditanya di sekre “kapan up noey, kapan kolo noey” jawabannya mantep dalam hati.
5.       Take a break. Ini kejadian banget kalau udah mentok dalam ngerjain skripsi tapi dikejar deadline bimbingan. Kalau udah mentok ya mending saranku ya refreshing….apapun itu. Kalau aku biasanya pergi ke book store atau tidur. Hehe…karna buatku refreshing itu baca atau nulis. Kadang juga renang, atau appun dulu aku lakuin untuk ngembaliin mood aku.
6.       Have Fun, Save Smart. Percaya gak kalau alloh udah ngash kita otak dan kecerdasan untuk berfikir. Kita pasti bisa. Kerja tuntas, kerja cerdas. Perluas jaringan membaca, jangan merasa puas Cuma dari satu literature. Aku ingat dulu setiap kali pulang ke Bogor pasti ke IPB. Stay in library from 8 am till drop (sampae diusir disuruh pulang). Beruntungnya aku suka baget baca yang ilmiah-ilmiah. Kamu yang lagi  ngerjain skripsi harus enjoy sama kripsi kamu. Harus seneng sama yang lagi kamu lakuin, baiknya diawal pilih tema skripsi sesuai keahlian sama minat kamu. It really works.
7.       Thing positively. Setiap orang mungkin bebas bermimpi, bebas bercita-cita tetap Alloh yang memutuskan yang terbaik untuk kita. Mungkin ada yang mulus banget jalan menuju kelulusannya tapi ada juga yang diberi tarbiyah sama Alloh lewat skripsinya. Tetap berfikir positif banwa alloh yang lebih tau yang terbaik untuk kita. Buka surat an nahl ayat 1. Takdir itu sudah dituliskan tidak bisa dipercepat atau diperlambat , tugas kita hanya berikhtiar untuk mendapatkan setiap takdir yang kita harapkan. Skripsi itu memang bukan segalanya, tapi segalanya (kehidupan sebenarnya) berawal dari skripsi. Jadikan ini adlaah bagian dari jihad kita, bagian dari bukti cinta kita untuk negri ini. (agak lebay :p)
Yuupp….itu berbagi tips yang insyalloh bermanfaat buat mahasiswa tingkat akhir. Jangan pada galau sama skripsi yaaa…semua orang bisa kok laluinya, masih banyak yang bisa kita lakukan daripada Cuma mentokin diri didepan laptop atau yang lainnya…Alloh itu luar biasa,,, jadikan sabar dan syukur kendaraan kamu dalam mengerjakan skripsi ya. Kalau lagi susah bimbingan ya sabar, kalau lagi lancar jaya ya  bersyukur.  Jangan lupa dzikir, lagi nunggu dosen daripada update status atau ngetweet mnding dzikir, tilawah. Minta Alloh mudahkan. Pliiss skripsi jadiin sebagai sarana ibadah yang luas banget biar berkah. Tau berkah kn?berkah itu artinya bertambah nilai kebaikan setelahnya. Keep inspiring!

“Seberapa besarpun cintamu untukNya lebih besar lagi cintaNya untukmu. Stay awesome guys”
Skripsi?keciiiil lah insyAlloh , ada AllohJ|

Selasa, 11 Desember 2012

Two minutes before 12-12-12


"I know where I'm going and I know the truth and I don't have to be what you want me to be. I'm free to be what I want" (Muhammad Ali)

Kamis, 06 Desember 2012

Comfort Zone.



                Well, actually this is my first time to write an article totally about my feelings. Indonesia people called “curhat “ . hhahaa… ( applause to my self :p) Last month I wrote an article which express about my wish to finish my study in Padjadjaran University in the end of 2012. Hopefully I can continue my master degree in USA. I don’t know why but I feel more interesting with one of the university there. I hope I can be a master there. God please help me to make it real. (Angkat tangan pasang muka melas ;))
                Muslimah or Indonesia people called “akhwat” usually better to chose comfort zone for them. Its so contrast to my self. I like challenges.  I wanna go out from this comfort zone. Why I called padjadjaran university  was my comfort zone because I always met with the same people who has the same ‘tsaqofah ‘ in this university. I wanna share my islam to the others. I wanna be an ‘international murrobiah’. My big dream is when I can “melingkar” with other people from the different country.
                My parents asked me about my planning to my future. I wanna get a married or continue my study or working in the company like other people did. Hmm…this is so simple question I think but must have a great ‘ruhiyah’ to answer.  After graduated from this university I wanna take a course to make up my TOEFL and IELTS. Besides that I wanna try to work in consultant company or teach in a course, maybe marketing consultant or agriculture consultant. What can I do in January, February I have wrote all.
                Oh rabb, I need u always to accompany me to face the journey. Welcome to the real life with the real situation outside. I remembered with the notice that I put on my room. Just enjoy your life….”cerdas-cantik-ceria”. Thanks a lot Unpad.^_^ #Hugs

Selasa, 04 Desember 2012

Kuatkan azzamku ya Rabb...





Indeed, I just read some article from internet  that inspired me to write an article with the same topic. ^_^

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
(QS. 3 : 159)

dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yg merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan dgn jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad (Ust. Rahmat Abdulloh)

Sesungguhnya segala urusan adalah urusanNya, dan takdirNya selalu yang terbaik. Enjoy the process noey !!

Jumat, 16 November 2012

Happy New Year


             Well, as always aku gak pernah bisa benar-benar focus dalam mengerjakan skripsi. Selalu butuh refreshing dan seperti yang pernah aku sebutkan bahwa refreshing for me means reading or writing. That’s my passion. :D
                My Murobbiah said “Harus ada pembeda antara seorang muslim yang sudah tertarbiyah sekian lama bahkan bertahun-tahun dengan muslim yang tidak tertarbiyah. Contoh kecilnya mulai dari tweet kita di twitter, tutur kata, kedewasaan sampai dengan perilaku kita terhadap sesama” Sudah berapa tahun melawati tahun hijriah?seberapa kuat karakter seorang muslim itu ada dalam dirimu?^_^
                Hijrah bermakna dua secara makaniyah maupun secara maknawiyah. Hijrah secara makaniyah artinya berpindah tempat. Contoh konkrietnya yang rasul pernah lakukan dari mekkah ke madinah pada tanggal 1 muharran 1 H. Hijrah secara maknawiyah berarti berpindahnya seseorang dari yang kurang baik menjadi lebih baik serta dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.
                Sepantasnya setiap muslim memaknai tahun baru hijriah sebagai momentum untuk bertaubat dan bermuhasabah atas segala perbuatan selama ini. Apakah selama ini setiap mimpi dan cita-cita sudah tercapai dalam tahun ini. Banyak melakukan maksiat atau banyak melakukan ibadah selama setahun ini. Inilah pertanyaan yang seharusnya ada dalam setiap qalbu muslim. Pun tentang seberapa besar kebermanfaatan yang lahir dalam diri kita untuk lingkungan sekitar kita. And the simple question is “udah ngapain aja km tahun ini?”
                Apa yang harus dilakukan pada saat awal tahun hijriah?
1.             At taubah
  Tobat kepada alloh adalah salah satu cara untuk mendapatkan keridhoan lebih dari alloh. Setiap manusia pasti pernah berdosa jikalau ia tidak pernah melakukan dosa pastilah ia pernah berniat melakukan dosa. Rasulloh seorang manusia biasa yang diberi keistimewaan oleh alloh, diberi jaminan bahwa akan masuk syurga memperbaharui tobatnya setiap saat. Bahkan diriwayatkan dalam satu hadits bahwa rasulloh beristighfar untuk memperbaharui tobatnya sebanyak minimal 100x perhari. Kita?:D
2.              Istiqomah dalam amalan-amalan yang shalih
  Berusahalah selalu berada dalam jalan yang lurus “ihdinassiratal mustaqim” Istiqomah itu lahir karna kebiasaan dan kebiasaan itu lahir karna paksaan. Harus ingat bahwa syurga itu eksklusif, hanya orang-orang tertentu yang Dia pilih untuk masuk didalamnya, so istiqomah itu butuh ikhtiar yang sangat besar agar bisa mencapainya. Tipsnya sederhana, pilih teman yang shalih, lingkungan yang kondusif dan pilih guru/murobbiah yang bisa mengingatkan kita untuk selalu ada dalam jalan kebaikan. Always remember this “jaga Alloh selalu dihatimu, maka Alloh akan selalu mnjagamu”
3.            Wattawashaubil haq
   Nasehati orang lain berdakwahlah sebisa kita. Ketentuan wajib agar kita bisa berdakwah sudah tidak diragukan lagi, dipostingan sebelumnya menceritakan kalau dakwah ga harus sesuatu yang berat dan menyeramkan. Dakwah itu ceria, dakwah  itu prestasi dan dakwah itu berkah. Believe it! Hijrah itu senyawa dalam iman. dan amal adalah air untuk menyuburkan keimanan kita. Bagaimana tanaman itu akan tumbuh dengan subur jika kita tidak pernah beramal?mau masuk syurga sendirian?:D
4.          Wattawashaubil shabr
    Sabar dalam dakwah. Masyarakat yang kita hadapi beragam. Dakwah itu nikmat ketika kita bisa menaruh setiap keringat yang menetes dan kelelahan kita diatas bantal keikhlasan. Sabar. Alloh pemegang hati setiap manusia. Dia memberikan hidayah dan rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut hidayah dan rahmat itu dari siapa yang Dia kehendaki. Tugas kita hanyalah menyampaikan, pun jika seseorang bisa berhijrah menjadi lebih baik lagi itu bukan karna kita, hanya melalui kita. :D

And the last opinion in this article I wanna said “happy new year All. Lots dreams, lots hopes. Keep fighting ” ^_^
@SriNoorCh

Kamis, 01 November 2012

cerita baru di pondok syariah , Jatinangor

seseorang : teh, namanya siapa?
aku : noey, salam kenal yah ^_^
seseorang  : nama aslinya siapa teh?
aku : sri noor cholidah
seseorang : oh sri noor cholidah faperta yah?mawapres faperta. Terkenal itu. Ternyata teteh ya. Saya ank fkg
aku : iya -__-"


*Langsung doa dlm hati "Ya Alloh Engkau mengenalkanku lebih baik dari diriku sendiri, dan Aku lebih mengenal diriku drpd org-org yg memujiku. Jadikanlah aku lbh baik drpd org puji atas diriku. Maafkan atas mrk yg tdk mengetahui sbnrnya tentangku. Sungguh Engkau pemberi segalanya"

Jakarta!!


prepare before going to education fair. :D

I met so many people that inspired me to learn and prepare more. *Stay cool*

After from education fair , im going  to seafood restorant and book store by transjakarta.
what i like and love the most is book! English version of course! ^_^

Rabu, 31 Oktober 2012

Hello November, I Wanna Fly with You :D

     Just realize if nothing imposible when we give our best efforts and prays to Alloh. Remember that with our "IMAN" we can feel more enjoy and happy to fast everything in this life.


*just wanna make u happy mom in the end of this year. I wanna tell you "i can fulfill all of my promises to you* ^_^

Sabtu, 13 Oktober 2012

kultwitt 13 oktober , H-1 hari itu :D

Percya اَللّهُ g akn slah pilih hmbanya u/mendptkan amnh. Teruntuk ankku dsana ☺☺ cm bisa mndoakn dr sini&mmbls smsmu dgn "bk at taubah41"☺☺

Regenerasi kepemimpinan itu pasti terjadi. Para pemimpin itu lahir dr sebuah sekre yg dulu kupenuhi isinya dgn cinta & ksh sygg. ♡♡♡

Mimpi saya sederhana dulu , begitu pula dgn dooa saya. Rabb..jaga mereka,kuatkanlah ♡♡♡

Hampiir ga percaya smwny terjadi,big thanks u/tom&jerry  yg krn klian..pemimpin' itu skrg lahir..atas izin اَللّهُ :')

Dan doaa terakhr: "smga kelak اَللّهُ anugrahi kpdku ank' yg lahir dr rahimku adlh pemimpin' yg amnah,istiqomah,crdas&mmpu mengubh negri ni"

Kamis, 11 Oktober 2012

membaca mimpi besar ibuku kepadaku

Siang itu di kampus bbku berbunyi. Ada sms dr ibuku isinya "bu mentri, kapan pulang kerumah?masih sakit?udah ke dokter belum"


aku : *terdiam* semoga semua malaikat saat itu mengaminkan doa ibuku terhadapku.


WITH LOVE
@SriNoorCh

Nazhar, Bukan Sekedar Ta’aruf


Engkaulah itu minyak atar
Meskipun masih tersimpan
Dalam kuntum yang akan mekar
-Iqbal, Javid Namah-
 “Seandainya kami bisa membelikan janggut untuk Qais dengan harta kami”, kata orang-orang Anshar, “Niscaya akan kami lakukan.” Semua sifat dan jiwa kepemimpinan memang ada pada pemuda ini. Nasabnya juga terkemuka lagi mulia. Kecuali, ya itu tadi. Janggut. Salah satu simbol kejantanan dalam kaumnya yang sayangnya tak dimilikinya. Wajahnya licin dan bersih.
Namanya Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Ayahnya, Sa’d ibn ‘Ubadah, pemimpin suku Khazraj di Madinah. Rasulullah menyebut keluarga ini sebagai limpahan kedermawanan. Ketika para muhajirin datang, masing-masing orang Anshar membawa satu atau dua orang yang telah dipersaudarakan dengan mereka ke rumahnya untuk ditanggung kehidupannya. Kecuali Sa’d ibn ‘Ubadah. Dia membawa 80 orang muhajirin ke rumahnya!
Saat masuk Islam, Sa’d ibn ‘Ubadah menyerahkan sang putera kepada Rasulullah. “Inilah khadam anda wahai Nabi Allah”, ujar Sa’d. Tapi menurut Anas ibn Malik, Qais lebih pas disebut ajudan Sang Nabi. Dan air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Dalam pergaulannya di kalangan pemuda, Qais sangat royal seperti bapaknya di kalangan tua-tua. Tak terhitung lagi sedekah dan dermanya. Tak pernah ditagihnya piutang-piutangnya. Tak pernah diambilnya jika orang mengembalikan pinjaman padanya.
Kedermawanan Qais begitu masyhur di kalangan muhajirin hingga menjadi bahan perbincangan. Sampai-sampai suatu hari Abu Bakr Ash Shiddiq dan ‘Umar ibn Al Khaththab berbicara tentangnya dan berujar, “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kedermawanannya, bisa-bisa habis licinlah harta orangtuanya!”
Pembicaraan ini sampai juga ke telinga sang ayah, Sa’d ibn ‘Ubadah. Apa komentarnya? Menarik sekali. “Aduhai siapa yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakr dan ‘Umar?!”, serunya. “Mereka telah mengajari anakku untuk kikir dengan memperalat namaku!” Mendengarnya para sahabat pun tertawa. Lalu Abu Bakr dan ‘Umar meminta maaf padanya.
Ah, Qais dan Sa’d. Ayah dan anak ini sebaris di jalan cinta para pejuang. Tak ada bedanya.
♥♥♥
Inilah salah satu ciri yang menonjol dari zaman yang mulia itu. Pewarisan karakter yang sangat kental dari para ayah kepada para anak. Seperti dari Sa’d ibn ’Ubadah kepada Qais yang telah kita bicarakan. Di belakang nama orang Arab selalu terderet nama ayah-ayah mereka. Mungkin salah satu hikmahnya adalah identifikasi. Tak cuma identifikasi keturunan siapa. Tapi juga wataknya. Kalau kau ingat bapaknya dulu punya suatu sifat mulia, demikian pula kurang lebih anaknya.
Itulah zaman di mana orangtua benar-benar dituakan oleh anaknya, dan mereka mendapatkan pendidikannya di madrasah yang tanpa libur dan tanpa jeda. Di rumahnya. Tempat di mana mereka belajar bukan hanya dari apa yang terucap, tapi apa yang dilakukan oleh ayah bundanya. Orangtua adalah guru yang sebenar-benarnya. Merekadigugu, ditaati karena integritas di hadapan anak-anaknya. Dan ditiru, karena memang semua perilakunya membanggakan untuk dijadikan identitas.
Maka jadilah masyarakat itu masyarakat yang punya tingkat saling percaya amat tinggi. Kalau kau mau menikahi Hafshah, tak perlu berkenalan dengan Hafshah. Lihatlah saja ’Umar, bapaknya. Nah, Hafshah kurang lebih ya seperti bapaknya. Kalau mau menikah dengan ’Aisyah, tak perlu engkau mengenal ’Aisyah. Coba perhatikan Abu Bakr. Nah, ’Aisyah tak beda jauh dengannya. Maka dalam gelar pun mereka serupa; Abu Bakr dijulukiAsh Shiddiq, dan ’Aisyah sering dipanggil Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq.
Dari sinilah saya berargumen pada sebuah seminar pernikahan yang membuat para pesertanya nyaris tersedak. Ada yang memberi pernyataan, ”Di dalam Islam kan tidak ada pacaran, yang ada ta’aruf.” Kata saya, ”Ta’aruf? Tidak ada dalilnya. Tidak ada asal dan contohnya dari Rasulullah maupun para shahabat. Ini istilah umum yang dipaksakan menjadi istilah khusus pernikahan. Sedihnya lagi, ada yang  menyalahgunakannya. Mengganti istilah, dengan hakikat dan isi yang nyaris sama dengan pacaran. Na’udzu billaahi min dzalik.”
Maafkan sekiranya saya berlebihan. Tapi begitulah. Kata ta’aruf artinya ’saling mengenal’ hanya kita temukan dalam Al Quran dalam konteks yang umum.
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujuraat 13)
♥♥♥
Tetapi tentu saja sebuah pernikahan yang dimulai dengan hanya mengandalkan rasa saling percaya di dalam suatu masyarakat menjadi penuh resiko di kelak kemudian hari. Apalagi hari ini, ketika kita mudah oleng, tak teguh berpijak pada wahyu dan nurani. Beberapa halaman lewat, pada tajuk Berkelana dalam Pilihan kita sudah menyimak kisah Habibah binti Sahl yang akhirnya memilih mengajukan pisah dari suaminya, Tsabit ibn Qais. Mengapa? Habibah mengukur kekuatan dirinya yang ia rasa takkan sanggup bersabar atas kondisi suaminya yang menurutnya, ”Paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya.”
Ya, masalahnya adalah Habibah belum pernah melihat calon suaminya itu. Belum pernah. Sama sekali belum pernah. Mereka baru bertemu setelah akad diikatkan oleh walinya. Sebelum berjumpa, dalam diri Habibah muncul harapan sewajarnya akan seorang suami. Dan harapan itu, karena ketidaksiapannya, karena ia belum pernah melihat sebelumnya, menjadi tinggi melangit dan tak tergapai oleh kenyataan. Ia dilanda kekecewaan. Mungkin kisahnya akan lain jika Habibah telah melihat calon suaminya sebelum pernikahan terjadi. Ia punya waktu untuk menimbang. Ia punya waktu untuk bersiap. Ia punya waktu untuk, kata Sang Nabi, ”Menemukan sesuatu yang menarik hati pada dirinya.”
Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Jabir ibn ’Abdillah mendengar Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian hendak meminang seorang perempuan, jika mampu hendaklah ia melihatnya terlebih dahulu untuk menemukan daya tarik yang membawanya menuju pernikahan.” Maka ketika Jabir hendak meminang, ia rahasiakan maksudnya, dan ia melihat kepada wanita Bani Salamah yang hendak dinikahinya. Ia menemukannya. Hal-hal yang menarik hati pada wanita itu, yang mebuatnya memantapkan hati untuk menikahi.
Al Mughirah ibn Syu’bah Radhiyallaahu ’Anhu, sahabat Rasulullah yang masyhur karena kehidupan rumahtangganya yang sering dilanda prahara sejak zaman jahiliah, suatu hari ingin meminang seorang shahabiyah, seorang wanita shalihah. Maka Sang Nabi pun berkata padanya, ”Lihatlah dulu kepadanya, suapaya kehidupan kalian berdua kelak lebih langgeng.”
Subhanallah, inilah pernikahan terakhir Al Mughirah yang lestari hingga akhir hayatnya. Padahal sebelumnya entah berapa puluh wanita yang pernah menemani hari-harinya. Penuh dinamika dalam nikah dan cerai. Itu di antaranya disebabkan ia tak pernah melihat calon isterinya sebelum mereka menikah. Maka dengan menjalani sunnah Sang Nabi, Al Mughirah mendapatkan doa beliau, mendapatkan ikatan hati yang langgeng dan mesra. Demikian disampaikan kepada kita oleh Imam An Nasa’i, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi.
Dari mereka kita belajar bahwa syari’at mengajari kita untuk nazhar. Melihat. Melihat untuk menemukan sesuatu yang membuat kita melangkah lebih jauh ke jalan yang diridhai Allah. Melihat untuk menemukan sebuah ketertarikan. Itu saja. Bukan mencari aib. Bukan menyelidiki cela. Bukan mendetailkan data-data. Lihatlah kepadanya. Itu saja. Tentu dengan mestarikan prasangka baik kita kepada Allah, kepada diri, dan kepada sesama.
Di jalan cinta para pejuang, kita melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya..
Keluarkan Kucing dari Karungnya
jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yang tekun
cinta adalah putera dari kecocokan jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta,
dalam hitungan tahun, bahkan millenia
-Kahlil Gibran-
Jika nazhar telah kita lakukan, sungguh kita telah mengeluarkan kucing dari karungnya. Tak lagi membeli kucing dalam karung. Karena kucing juga tak suka dimasukkan dalam karung. Karena kita juga tak ingin menikah dengan kucing.
 Tapi nazhar itu cukuplah sedikit saja.
Adalah Malcolm Gladwell, wartawan The New Yorker yang setelah sukses dengan bukuTipping Point-nya, lalu berkelana penjuru Amerika untuk menulis dan merilis buku barunya,Blink: The Power of Thinking without Thinking. Buku tentang berfikir tanpa berfikir. Buku tentang dua detik pertama yang menentukan. Yang dengan pertimbangan dua detik itu, keputusan yang dihasilkan seringkali jauh lebih baik dari riset yang menjelimet. Dalam bukunya, Gladwell membentangkan puluhan riset yang kuat validitasnya dari berbagai ilmuwan terkemuka untuk menjabarkan tesisnya.
Dua detik pertama mencerap dengan indera itu menentukan. Mahapenting.
Sejalan dengan riset-riset yang dibabarkan Malcolm Gladwell, Kazuo Murakami, ahli genetika peraih Max Planck Award 1990 itu berkisah bahwa para ilmuwan yang begitu tekun belajar untuk menguasai disiplin ilmunya hingga ke taraf ahli, acapkali tak pernah menghasilkan penemuan besar. Justru ilmuwan yang ‘tak banyak tahu’ seringkali menghasilkan dobrakan-dobrakan mengejutkan. Penemuan akbar.
“Mengapa terlalu banyak tahu terkadang menghalangi kita?”, kata Murakami dalam bukuThe Divine Message of The DNA. “Sebenarnya bukan informasi itu sendiri yang pada dasarnya buruk; tetapi mengetahui lebih banyak daripada orang lain dapat membuai kita untuk mempercayai bahwa keputusan kita lebih baik.”
Padahal seringkali dengan banyaknya informasi membanjir, kemampuan otak kita untuk memilah mana informasi yang berguna dan mana yang tak bermakna menjadi menurun. Otak kita bingung menentukan prioritas. Fakta yang kita anggap penting ternyata sampah. Sebaliknya, hal kecil yang kita remehkan justru bisa jadi adalah kunci dari semuanya. Maka, merujuk pada Gladwell dan Murakami, kita memang tak perlu tahu banyak hal. Cukup mengetahui yang penting saja.
Begitu juga tentang calon isteri, calon suami, calon pasangan kita. Kita tak perlu tahu terlalu banyak. Cukup yang penting saja.
Alkisah, seorang lelaki hendak menikah. Maka satu hal saja yang ia persyaratkan untuk calon isterinya; memiliki tiga kelompok binaan pengajian yang kompak padu. Ketika mereka bertemu untuk nazhar sekaligus merencanakan pinangan, sang wanita berkata, “Maaf, saya tidak bisa memasak.” Ini ujian Allah, batin si lelaki. Bukankah dia hanya meminta yang memiliki binaan pengajian? Mengapa harus mundur, ketika sang calon tak bias memasak?
“Insyaallah di Jogja banyak rumah makan”, begitu jawabnya sambil menundukkan senyum.
“Dan saya juga tidak terbiasa mencuci.”
Kali ini senyumnya ditahan lebih dalam. Kebangetan juga sih. Tapi ia tahu, ini ujian. Maka katanya, “Insyaallah di Jogja banyak laundry.”
Ia, sang lelaki tahu apa yang penting. Kejujuran. Keterbukaan. Itu sudah ditunjukkan oleh sang wanita dengan sangat jelas, sangat ksatria. Ia berani mengakui tak bisa memasak dan tak bisa mencuci. Tanpa diminta. Dua hal yang kadang membuat lelaki rewel. Tetapi dia adalah lelaki yang berupaya selalu memiliki visi dan misi. Maka dia mendapatkan sesuatu yang berharga; seorang wanita yang memiliki tiga kelompok binaan kompak padu. Dan itu sangat berarti bagi visi dan misinya dalam membangun keluarga. Selebihnya, siapa juga yang mencari tukang cuci dan tukang masak? Yang dia cari adalah seorang isteri, bukan kedua macam profesi itu.
Dan tahukah anda? Setelah pernikahan berjalan beberapa waktu, ketika merasa diterima apa adanya oleh suami tercinta, sang isteripun mencoba memasak. Ternyata ia pandai. Hanya selama ini ia tak pernah mencoba. Masakannya lezat, jauh melebihi harapan sederhana sang suami. Begitu juga dalam hal-hal lain. Banyak kejutan yang diterima sang suami. Jauh melebihi harapan-harapannya. Dulu, dia memang tak terlalu banyak tahu tentang calon isterinya. Ia cukup mengetahui yang terpenting saja.
Dua detik itu sangat menentukan. Mungkin karena dalam dua detik itulah ruh saling mengenal. Mereka saling mengirim sandi. Jika sandi dikenali, mereka akan bersepakat, tanpa banyak tanya, tanpa banyak bicara. Karena sesudah itu adalah saatnya bekerja mewujudkan tujuan bersama. Segera. Jangan ditunda-tunda.
“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.” (HR Al Bukhari [3336] secara mu’allaq dari ’Aisyah, dan Muslim [2638], dari Abu Hurairah)
            Ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.
”Iman”, kata Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Quran, ”Adalah persepsi baru terhadap alam, apresiasi baru terhadap keindahan, dan kehidupan di muka bumi, di atas pentas ciptaan Allah, sepanjang malam dan siang. Dan inilah yang diperbuat keimanan. Membuka mata dan hati. Menumbuhkan kepekaan. Menyirai kejelitaan, keserasian, dan kesempurnaan.” Maka biarlah dia yang menjadi ratu penentu, di dua detik pertama nazhar kita.
Di jalan cinta para pejuang, kita melestarikan nilai-nilai nazhar; berbaik sangka kepada Allah, menjaga pandangan dalam batas-batasnya, dan selalu mencari hal yang menarik. Bukan sebaliknya. Di jalan cinta para pejuang, yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu. Dan bahwa Allah selalu bersamamu.
kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya
ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan
ada panas dan dingin bertemu untuk mencapai kehangatan; itu keseimbangan
ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman; itu kegenapan
tapi satu hal tetap sama
mereka cocok  karena bersama bertasbih memuji Allah
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, ruku’ pada keagunganNya